Selasa, 25 September 2012

Budidaya Tanaman Buah Yang Menguntungkan

ASPEK KEUANGAN, USAHA PEMBIBITAN TANAMAN BUAH

Halo sobat kali ini saya ingin membagikan tentang Budidaya Tanaman Buah nih simak ya....yuk langsung aja ke TKP....


Pemilihan Pola UsahaPola usaha yang dipilih adalah pola usaha polikultur sesuai dengan pola usaha di daerah survei dengan menggunakan teknik konvensional yakni pembibitan di lahan sawah. Usaha pembibitan tanaman buah-buahan harus memperhatikan ketersediaan air sepanjang tahun, pohon induk penghasil mata tempel dan biji untuk batang bawah.
Tanaman yang ditangkar yakni durian Kani, mangga Arumanis dan Lalijiwa, rambutan Binjai, Lebak Bulus dan Rapiah. Produk dari usaha ini adalah bibit yang berlabel dengan tinggi 30-40 cm. Ukuran ini adalah ukuran untuk partai besar/borongan. Bibit yang tidak laku terjual akan ditanam kembali dan dapat dijual kembali bila sewaktu-waktu ada yang memerlukannya
Asumsi
Analisis keuangan usaha pembibitan tanaman buah-buahan perlu dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai pendapatan dan pengeluaran/biaya, kemampuan melunasi kredit, serta kelayakan usaha ditinjau dari beberapa kriteria kelayakan finansial seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Pay back Period (PBP) dan Net Benefit/Cost Ratio (Net B/C). Untuk melakukan analisis keuangan tersebut digunakan beberapa asumsi dan parameter keuangan yang didasarkan pada hasil pengamatan di lapangan, masukan dari instansi terkait dan pustaka yang mendukung sehingga akan diperoleh gambaran secara utuh tentang aspek keuangan usaha pembibitan tanaman buah-buahan. Asumsi-asumsi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.1
Pemilihan periode proyek 3 tahun disebabkan oleh umur ekonomis peralatan yang digunakan rata-rata mencapai 3 tahun. Luas lahan pembibitan tanaman buah-buahan adalah 1 ha terdiri dari 0,35 ha pembibitan durian; 0,20 ha pembibitan mangga terdiri dari 2/3 mangga Arumanis dan 1/3 mangga Lalijiwa dan 0,45 ha pembibitan rambutan (untuk Binjai, Lebak Bulus dan Rapiah masing-masing 0,15 ha).
Biaya dalam analisis keuangan berdasarkan harga bahan baku, sarana produksi dan upah tenaga kerja pada tahun 2004/2005 (musim tanam 2004). Harga jual bibit berdasarkan harga jual tahun 2005 (Tabel 3.3) dan diasumsikan harga sama pada tahun berikutnya. Mata tempel dan biji untuk batang bawah dibeli dari petani buah. Jenis kredit yang digunakan adalah Kredit Modal Kerja (KMK) dengan jangka waktu pengembalian kredit adalah 12 bulan (1 tahun).
Proses pembibitan tanaman buah-buahan mulai dari pengolahan tanah sampai dengan panen mencapai 14 bulan (1 musim tanam). Asumsi total kehilangan hasil sebesar 30% (saat okulasi 20% ditambah 10% setelah okulasi). Produksi bibit buah ditentukan oleh jumlah order/pesanan dan ketersediaan pohon induk penghasil mata tempel dengan produksi bibit setiap tahun adalah sama yaitu 70.000 bibit.
Bibit yang berhasil dijual tiap tahun sebesar 80 % dari total produksi bibit tiap tahun. Bibit yang tidak laku terjual dapat dijual kembali pada tahun berikutnya. Tenaga kerja tetap, termasuk didalamnya tenaga kerja manajerial berjumlah 8 orang dengan upah Rp 500.000 per orang per bulan. Dari hasil survei, pemilik usaha pembibitan tanaman buah-buahan sekaligus bertindak sebagai tenaga kerja manajerial yang gajinya sama dengan tenaga kerja tetap. Asumsi dan parameter yang digunakan dalam analisis keuangan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1
Tabel 5.1.
Asumsi Analisis Keuangan
No Asumsi Satuan Jumlah
8 • Hari kerja per bulan Hari 25

• Bulan kerja per tahun Bulan 12
9 Penggunaan tenaga kerja


• Tenaga manajerial Orang

• Tenaga kerja tetap Orang 8

• Tenaga kerja borongan Orang 15
10 Upah tenaga kerja


• Tenaga kerja tetap Rp/orang/hari 20.000

• Tenaga kerja borongan Rp/bibit 100
11 Sarana produksi


• Plastik Bal 33

• Karung/keranjang Buah 70.000

• Pestisida Liter 40

• Pupuk urea Kg 400

• Pupuk kandang Ton 20
12 Harga sarana produksi


• Biji batang bawah durian, mangga dan rambutan Rp/buah 150

• Mata tempel


a. Durian Rp/buah 70

b. Mangga Rp/buah 125

c. Rambutan Rp/buah 70

• Plastik Rp/bal 4.000

• Karung/keranjang Rp/buah 100

• Pestisida Rp/liter 60.000

• Pupuk urea Rp/kg 1.100

• Pupuk kandang Rp/ton 200.000
13 Biaya sertifikasi bibit Rp/bibit 165
14 Bunga Kredit Modal Kerja Persen 15,75
15 Proporsi kredit dan dana sendiri untuk Modal Kerja


• Kredit Persen 35

• Dana sendiri Persen 65
16 Jangka waktu pinjaman Tahun 1
Sumber: Lampiran 1
Jadwal kegiatan usaha pembibitan tanaman buah-buahan seluas 1 hektar dengan pola usaha polikultur (durian, mangga dan rambutan) mulai dari pengolahan tanah, pembuatan bedengan hingga panen berlangsung selama 14 bulan untuk satu musim tanam. Secara rinci jadwal kegiatan usaha pembibitan tanaman buah-buahan dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2.
Jadwal Kegiatan Usaha Pembibitan Tanaman Buah-buahan
No Bulan Uraian Kegiatan
1 Desember Pengolahan tanah
2 Januari Pembuatan bedengan
3 Februari Penyemaian biji untuk batang bawah sebanyak 100.000 biji
4 Maret-Juni Pemeliharaan batang bawah
5 Juli Okulasi tahap I sebanyak 100.000 mata tempel untuk 100.000batang bawah. Dengan tingkat keberhasilan 60% maka jumlah bibit yangberhasil hidup setelah okulasi sebanyak 60.000 bibit
6 Agustus Okulasi tahap II sebanyak 40.000 mata tempel untuk 40.000batang bawah. Dengan tingkat keberhasilan 50% maka jumlah bibit yangberhasil hidup setelah okulasi sebanyak 20.000 bibit. Jumlah bibit yangberhasil hidup setelah okulasi tahap I dan II yaitu 80.000 bibit
7 September- Desember Pemeliharaan bibit hasil okulasi. Pada tahap ini diperkirakanjumlah kematian bibit sebanyak 10.000 bibit
8 Januari Panen terdiri dari pendongkeran dan pengangkutan bibit hasilokulasi sebanyak 70.000 bibit (tingkat keberhasilan sampai dengan panensebesar 70%)
Biaya Investasi dan Operasional
Struktur biaya yang diperlukan untuk usaha pembibitan tanaman buah-buahanterdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasiadalah biaya awal yang diperlukan sebelum kegiatan operasionaldilakukan. Sedangkan biaya operasional diperlukan pada saaat prosesproduksi mulai dilakukan
Biaya Investasi
Biaya investasi diperlukan untuk memulai usaha pembibitan tanaman buah-buahan meliputi biaya perizinan, sewa lahan, bangunan dan peralatan. Biaya investasi ini bersifat tetap (fixed) dan harus dikeluarkan pada tahun ke-0 sebelum melakukan usaha. Jumlah investasi yang dibutuhkan untuk usaha pembibitan tanaman buah-buahan adalah Rp 65.620.000 Secara rinci jenis investasi dan kebutuhan biaya masing-masing investasi dapat dilihat pada Tabel 5.3 berikut.
Selama periode proyek, terdapat komponen investasi yang harus melakukan reinvestasi pada tahun-tahun berikutnya yakni sewa lahan sedangkan biaya perizinan dikeluarkan sekali saja pada awal usaha. Biaya perizinan meliputi Tanda Daftar Pedagang (TDP), NPWP dan SIUP. Komponen biaya investasi usaha pembibitan tanaman buah-buahan secara rinci terdapat pada Lampiran 2.
Tabel 5.3.
Kebutuhan Biaya Investasi Usaha Pembibitan Tanaman Buah-buahan
No Uraian Jumlah Biaya (Rp)
1 Perijinan 1.000.000
2 Sewa Lahan 1 Hektar 36.000.000
3 Bangunan dan Peralatan

a. Bangunan 25.620.000

b. Peratalan 3.000000

Jumlah 62.620.000
Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan biaya yang diperlukan dalam memproduksi bibit tanaman buah-buahan. Besarnya biaya operasional ini tergantung pada luas areal tanah. Semakin luas areal tanam maka biaya operasional semakin tinggi. Biaya operasional umumnya merupakan biaya tidak tetap (variabel cost) yang terdiri dari biaya bahan baku, sarana produksi, tenaga kerja borongan dan biaya sertifikasi bibit. Selain biaya tidak tetap, biaya operasional juga meliputi juga biaya overhead yang merupakan biaya tetap yang harus dikeluarkan setiap bulannya dan sifatnya tidak langsung. Biaya overhead meliputi biaya listrik, biaya telepon dan tenaga kerja tetap.
Total biaya operasional yang dibutuhkan pada tahun pertama sejumlah Rp 131.162.000 dan pada tahun selanjutnya diasumsikan konstan karena luas areal tanam tetap, jumlah bahan baku, sarana produksi dan biaya sertifkasi bibit juga tetap. Biaya operasional usaha pembibitan tanaman buah-buahan dapat dilihat pada Tabel 5.4 berikut ini.
Tabel 5.4.
Kebutuhan Biaya Operasional per Tahun
No Uraian Jumlah Biaya (Rp)
1 Biaya Variabel

a. Biaya bahan baku 44.340.000

b. Biaya saprotan 13.972.000

c. Tenaga kerja borongan 26.000.000

d. Biaya sertifikasi bibit 11.550.000
2 Biaya Overhead

a. Biaya listrik 600.000

b. Biaya telepon 1.200.000

c. Biaya tenaga kerja tetap 48.000.000

Jumlah 131.162.000
Upah tenaga kerja tetap yang terlibat dalam usaha ini tidak mengalami kenaikan karena menyesuaikan dengan upah minimum provinsi. Tenaga kerja borongan bersifat tidak tetap yang diupah Rp 100 untuk setiap bibit sehingga besarnya upah tidak tergantung jumlah tenaga kerja yang digunakan. Kegiatan yang dilakukan tenaga kerja borongan meliputi okulasi, pendongkeran dan pengangkutan bibit ke showroom. Tenaga kerja borongan tergantung pada jumlah produksi bibit. Biaya listrik dan telepon juga diasumsikan tetap tiap tahunnya. Kebutuhan biaya operasional yang dibutuhkan dalam usaha pembibitan tanaman buah-buahan per tahun secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 3.
Kebutuhan Investasi dan Modal Kerja
Sumber dana untuk usaha pembibitan tanaman buah-buahan berasal dari dana sendiri dan kredit perbankan. Dana investasi seluruhnya berasal dari dana sendiri, sedangkan dana modal kerja berasal dari kredit bank dan dana sendiri dengan perbandingan 35% kredit bank dan 65% dari dana sendiri. Untuk mendapatkan kredit, pihak bank mensyaratkan bahwa penangkar harus mempunyai dana investasi sendiri. Secara keseluruhan besarnya dana untuk investasi dan modal kerja usaha pembibitan tanaman buah-buahan mencapai Rp 196.782.000.
Dari tabel 5.5. dapat diketahui bahwa untuk kebutuhan investasi dibutuhkan dana sebesar Rp 65.620.000 sedangkan untuk kebutuhan modal kerja dibutuhkan dana sebesar Rp 131.162.000terdiri dari kredit modal kerja sebesar Rp 45.906.700 atau 35% dan dana sendiri sebesar Rp 85.255.300 atau 65%.
Tabel 5.5.
Kebutuhan Modal Investasi dan Modal Kerja
No Uraian Persentase
Total Biaya (Rp)
1 Dana Investasi


a. Kredit 0% 0

b. Dana Sendiri 100% 65.620.000

Jumlah Dana Investasi
65.620.000
2 Dana Modal Kerja


a. Kredit 35% 45.906.700

b. Dana Sendiri 65% 85.255.300

Jumlah Dana Modal Kerja
131.162.000
3 Total Dana Proyek


a. Kredit 23,33% 45.906.700

b. Dana Sendiri 76,67% 150.875.300

Jumlah Dana Proyek
196.782.000
Dana yang berasal dari bank yaitu KreditModal Kerja akan dikembalikan dalam jangka waktu 1 tahun dengan bunga15,75% dengan angsuran dibayarkan setiap bulan (Tabel 5.6.)
Tabel 5.6.
Angsuran Pokok dan Angsuran Bunga.
Periode Angsuran Pokok
Angsuran Bunga
Total Angsuran
Saldo Akhir




45.906.700
Bulan 1 3.825.558
602.525
4.428.084
42.081.142
Bulan 2 3.825.558
552.315
4.377.873
38.255.583
Bulan 3 3.825.558
502.105
4.327.663
34.430.025
Bulan 4 3.825.558
451.894
4.277.452
30.604.467
Bulan 5 3.825.558
401.684
4.227.242
26.778.908
Bulan 6 3.825.558
351.476
4.177.032
22.953.350
Bulan 7 3.825.558
301.263
4.126.821
19.127.792
Bulan 8 3.825.558
251.052
4.076.611
15.302.233
Bulan 9 3.825.558
200.842
4.026.611
11.476.675
Bulan 10 3.825.558
150.631
3.976.190
7.651.117
Bulan 11 3.825.558
100.210
3.925.979
3.825.558
Bulan 12 3.825.558
50.210
3.875.769
0
Total 1 Tahun 45.906.700
3.916.415
49.823.115

Produksi dan Pendapatan
Bibit tanaman durian, mangga dan rambutan diproduksi setahun sekali. Total kehilangan hasil pembibitan diasumsikan 30% dan sama setiap tahunnya sehingga jumlah total produksi bibit tiap tahun 70.000 bibit terdiri dari durian Kani 24.500 bibit, mangga 14.000 bibit terdiri dari Arumanis 10.500 bibit dan Lalijiwa 3.500 bibit, rambutan Binjai, Lebak Bulus dan Rapiah masing-masing 10.500 bibit sebagaimana terlihat pada Tabel 5.7.
Bibit yang dihasilkan berukuran 30-40 cm dan dijual secara borongan dengan harga jual bibit durian Kani Rp 4000/bibit, mangga Arumanis Rp 2500/bibit dan mangga Lalijiwa Rp 3000/bibit. Sedangkan untuk rambutan baik itu rambutan Binjai, Lebak Bulus maupun Rapiah dijual dengan harga Rp 2000/bibit. Jumlah bibit terjual diasumsikan 80% dari total produksi bibit dan bibit yang tidak terjual dapat dijual kembali pada tahun berikutnya. Pada tahun ke-1, bibit yang terjual adalah 56.000 dari produksi 70.000 bibit sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp 158.200.000. Pada tahun ke-2, bibit yang terjual adalah 67.200 bibit dari produksi 70.000 bibit ditambah sisa produksi bibit tahun pertama sehingga diperoleh pendapatan Rp 189.840.000. Pada tahun ke-3, bibit yang terjual adalah 69.440 bibit dari produksi 70.000 bibit ditambah sisa produksi bibit tahun kedua sehingga diperoleh pendapatan Rp 196.168.000. Secara rinci proyeksi produksi dan pendapatan dapat dilihat pada Lampiran 4 dan Lampiran 6.
Tabel 5.7.
Proyeksi Produksi dan Pendapatan Usaha Pembibitan Tanaman Buah-buahan
Uraian Tahun 1
Tahun 2
Tahun 3
Produksi (bibit)


a. Durian Kani 24.500 24.500 24.500
b. Mangga Arumanis dan Lalijiwa 14.000 14.000 14.000
c. Rambutan Binjai, Lebak Bulus dan Rapiah 31.500 31.500 31.500
Jumlah 70.000 70.000 70.000
Pendapatan


Bibit :


a. Durian Kani 19.600 23.520 24.304
b. Mangga Arumanis dan Lalijiwa 11.200 13.440 13.888
c. Rambutan Binjai, Lebak Bulus dan Rapiah 25.200 30.240 31.248
Jumlah 56.000 67.200 69.440
Nilai (Rupiah)


a. Durian Kani 78.400.000 94.080.000 97.216.000
b. Mangga Arumanis dan Lalijiwa 29.400.000 35.250.000 36.456.000
c. Rambutan Binjai, Lebak Bulus dan Rapiah 50.400.000 60.480.000 62.946.000
Jumlah 158.200.000 189.840.000 196.168.000
Proyeksi Laba Rugi dan Break Even Point
Proyeksi laba rugi merupakan suatu gambaran potensi keuntungan atau kerugian yang akan diperoleh dari suatu usaha atau proyek. Perhitungan proyeksi laba dan rugi menunjukkan bahwa pada tahun pertama usaha pembibitan tanaman buah-buahan memperoleh keuntungan sebesar Rp 1.633.347 dengan profit on sales sebesar 1,03% dan Break Even Point (BEP) dalam rupiah adalah Rp 154.243.693. Potensi keuntungan tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun hingga tahun ketiga memperoleh keuntungan bersih Rp 37.235.100 dengan profit on sales sebesar 18,98% dan BEPRp 121.317.074 (Tabel 5.8.)
Tabel 5.8.
Proyeksi Laba Rugi Usaha dan Break Even Point per Tahun
No Uraian
Tahun 1
Tahun 2
Tahun 3
A Total Pendapatan 158.200.000 189.840.000 198.168.000
B Total Pengeluaran 156.278.415 152.362.000 152.362.000
C L/R Sebelum Pajak 1.921.585 37.478.000 43.806.000
D Pajak (15%) 288.238 5.621.700 6.570.900
E Laba Setelah Pajak 1.633.347 31.856.300 37.235.100
F Profit on Sales 1,03% 16,78% 18,98%
G BEP : Rupiah 154.243.693 124.252.291 121.317.074
Rata-rata keuntungan bersih selama 3 tahun mencapai Rp 23.030.467 per tahun sedangkan profit on sales rata-rata mencapai 12,26% per tahun. Sementara rata-rata Break Even Point (BEP) dalam rupiah selama 3 tahun mencapai Rp 133.271.019 per tahun. Secara rinci ptoyeksi laba dan rugi dan BEP dapat dilihat pada Lampiran 7.
Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek
Proyeksi arus kas dilakukan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya ke pihak lain dan tetap mendapatkan keuntungan (proyeksi arus kas masuk dan arus kas keluar). Dalam analisis arus kas juga dilakukan perhitungan kelayakan usaha yaitu Net Benefit/Cost Ratio (Net B/C Ratio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Back Period (PBP). Proyeksi arus kas secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 8.
Hasilperhitungan menunjukkan bahwa usaha pembibitan tanaman buah-buahanmerupakan usaha yang menguntungkan secara finansial karena pada tingkatsuku bunga 15,75% per tahun memiliki NPV positif yaitu sebesar Rp34.769.916, IRR yang lebih tinggi dari tingkat suku bunga yaitusebesar 41,93% dan Net B/C ratio lebih besar dari 1 yaitu 1,53.Sementara PBP adalah 2,08 tahun yang menunjukkan investasi usahaPembibitan Tanaman Buah-buahan yang besarnya mencapai Rp 65.620.000dapat tertutup kembali selama 2 tahun usaha berjalan. Dengan demikianusaha Pembibitan Tanaman Buah-buahan layak dilaksanakan sampai tingkatsuku bunga 41,93%. Secara ringkas, kriteria kelayakan dan nilainyadapat dilihat pada Tabel 5.9.
Tabel 5.9.
Kelayakan Usaha Pembibitan Tanaman Buah-buahan
No KriteriaKelayakan Nilai
JustifikasiKelayakan
1 NPV (15,75%) Rp 34.769.916 > 0
2 IRR 41,93% > 15,75%
3 Net B/C Ratio 1,53 > 1,00
4 PBP (Tahun) 2,08 < 3
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas kelayakan usahaperlu dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa besar (dalam persen)perubahan dari pengeluaran dan atau pendapatan, sehingga proyek initidak layak dilaksanakan. Dalam pengertian NPV negatif, Net B/C ratiolebih kecil dari satu dan IRR di bawah tingkat suku bunga. Hal inidisebabkan karena proyeksi pendapatan dan pengeluaran didasarkan padaasumsi yang memiliki ketidakpastian. Analisis sensitivitas dilakukanpada 3 skenario atau kondisi perubahan yaitu :
1. Skenario I : Penurunan pendapatan
Pada skenario ini terjadi penurunan pendapatan sementara biaya investasi dan operasional tetap. Penurunan pendapatan dapat terjadi karena harga jual bibit tanaman buah-buahan mengalami penurunan ataupun penurunan volume penjualan. Pada saat terjadi penurunan pendapatan usaha pembibitan tanaman buah-buahan menjadi sensitif terhadap penurunan pendapatan pada kisaran 8-9%. Hasil analisis sensitivitas akibat penurunan pendapatan sabagaimana terlihat pada tabel 5.10 dan Lampiran 9 dan Lampiran 10.
Tabel 5.10.
Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario I
No Kriteria Kelayakan
Pendapatan Turun
8% 9%
1 NPV (15,75%) Rp 2.381.228 - Rp 1.667.358
2 IRR 17,62% 14,43%
3 Net B/C Ratio 1,04 0,97
4 PBP (Tahun) 2,91 3,06
Dari tabel tersebut dapat diketahuibahwa jika pendapatan turun sampai 8% maka proyek tersebut masih layakuntuk dilaksanakan karena nilai NPV masih positif, IRR lebih besar daritingkat suku bunga yang berlaku yakni 15,75% dan Net B/C di atas 1, danjangka waktu pengembalian investasi (PBP) sebesar 2,91 tahun. Tetapijika pendapatan turun sampai 9%, proyek tersebut tidak layak untukdilaksankan karena NPV negatif, IRR berada di bawah tingkat suku bungayang berlaku yakni 15,75%, Net B/C berada di bawah 1 dan jangka waktupengembalian investasi (PBP) melebihi umur proyek.
2. Skenario II : Kenaikan biaya variabel (produksi)
Pada skenario ini, biaya variabel mengalami kenaikan sedangkan biaya investasi, biaya overhead dan pendapatan dianggap tetap. Kenaikan biaya variabel dapat terjadi apabila harga input meningkat seperti bahan baku bibit, sarana produksi, tenaga kerja borongan dan biaya sertifikasi bibit. Pada saat terjadi peningkatan biaya variabel usaha pembibitan tanaman buah-buahan menjadi sensitif pada kisaran 18-19%. Hasil analisis sensitivitas akibat kenaikan biaya variabel dapat dilihat pada Tabel 5.11 dan Lampiran 11 dan Lampiran 12.
Tabel 5.11.
Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario II
No Kriteria Kelayakan Biaya Variabel Naik
18% 19%
1 NPV (15,75%) Rp 1.743.247 - Rp 91.568
2 IRR 17,10% 15,68%
3 Net B/C Ratio 1,03 1,00
4 PBP (Tahun) 2,94 3,00
Pada kenaikan biaya variabel sampai 18%mengindikasikan proyek tersebut masih layak untuk dilaksanakan karenanilai NPV masih positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bungayang berlaku, Net B/C Ratio berada di atas 1 dan PBP sebesar 2,94tahun. Tetapi pada kenaikan biaya variabel sampai 19% proyek ini tidaklayak dilaksanakan karena nilai NPV negatif, IRR berada di bawahtingkat suku bunga yang berlaku.
3. Skenario III : Penurunan pendapatan dan kenaikan biaya variabel (produksi)
Pada skenario ini terjadi penurunan pendapatan sekaligus terjadi peningkatan biaya varibel pada saat yang bersamaan dengan persentase yang sama. Pada saat terjadi penurunan pendapatan dan peningkatan biaya variabel usaha pembibitan tanaman buah-buahan menjadi sensitif pada kisaran 5-6%. Hasil analisis sensitivitas akibat penurunan pendapatan dan peningkatan biaya variabel dapat dilihat pada Tabel 5.12 dan Lampiran 13 dan Lampiran 14.
Tabel 5.12.
Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario III
No Kriteria Kelayakan Pendapatan Turun dan Biaya Variabel Naik
5% 6%
1 NPV (15,75%) Rp 5.352.911 - Rp 530.490
2 IRR 19,92% 15,33%
3 Net B/C Ratio 1,08 0,88
4 PBP (Tahun) 2,81 3,02
Jika pendapatan turun dan biaya variabel naik masing-masing 5% maka proyek tersebut masih layak untuk dilaksanakan karena nilai NPV masih positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 15,75%, Net B/C Ratio masih berada di atas 1 dan PBP selama 2,8 tahun. Tetapi jika penurunan pendapatan dan kenaikan biaya variabel adalah 6%, proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan karena nilai NPV negatif, IRR berada di bawah tingkat suku bunga yang berlaku, Net B/C kurang dari satu dan jangka waktu pengembalian investasi (PBP) lebih dari umur proyek.
Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa penurunan pendapatan lebih sensitif dibandingkan dengan kenaikan biaya variabel. Hal ini terbukti dengan penurunan pendapatan 9% proyek sudah tidak layak, sedangkan pada kenaikan biaya variabel sebesar 18% proyek masih layak dilaksanakan. Dari hasil analisis keuangan secara keseluruhan dapat diketahui bahwa usaha pembibitan tanaman buah-buahan cukup menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan.
ASPEK SOSIAL EKONOMI
Dalam pelaksanaan studi lapangan diketahui bahwa sebagian besar penangkar bibit di Kecamatan Sawan dan Kabutambahan dapat menyisihkan pendapatan dari usaha ini dalam bentuk tanah, kendaraan bermotor dan rumah. Penangkar juga mempunyai usaha lain yang mendukung usaha pembibitan yakni kebun buah. Bagi masyarakat sekitar, usaha pembibitan ini menyebabkan berkembangnya usaha-usaha baru seperti buruh angkut, pembuatan keranjang, pedagang biji-bijian, pedagang batang bawah dan pedagang mata tempel atau entres.
Usaha pembibitan tanaman buah-buahan mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi dan mengurangi pengangguran. Dari sisi pendapatan daerah usaha ini hanya memiliki kontribusi 1% meskipun demikian usaha ini mampu menjadi ikon bagi daerah Buleleng sehingga kabupaten ini terkenal sebagai pusat pembibitan tanaman buah-buahan di daerah Bali.
ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN
Berdasarkan hasil wawancara sampai saat ini belum diketahui secara pasti dampak negatif yang disebabkan dari usaha ini. Menurut masyarakat sekitar usaha ini berdampak positif bagi lingkungan sekitar terutama sekitar showroom karena lingkungan menjadi asri dan indah.KESIMPULAN
  1. Usaha pembibitan tanaman buah-buahandilakukan di lahan persawahan (konvensional) dengan teknologisederhana, dikelola sederhana dan merupakan usaha perseorangan.
  2. Peluang pasar bibit tanaman buah-buahanmasih terbuka dan berpotensi memberikan peluang bagi pengembanganagribisnis buah-buahan. Dilihat dari potensi sumber daya alam dansumber daya manusia, peluang pengembangan usaha pembibitan tanamanbuah-buahan di Indonesia masih banyak tersedia di berbagai daerah.
  3. Kendala yang dihadapi penangkar dalampengembangan usaha pembibitan tanaman buah-buahan adalah ketergantunganpasar terhadap pesanan dari pedagang besar. Masalah ini, disebabkanoleh minimnya informasi yang diperoleh penangkar mengenai jumlahpermintaan dan adanya permainan harga yang dilakukan oleh pedagang ataupengumpul yang bermodalkan besar.
  4. Kendala produksi pembibitan tanamanbuah-buahan adalah ketersediaan mata tempel, ketersediaan biji atauseedling, kondisi iklim dan cuaca pada saat okulasi dan pendongkeran.
  5. Sumber dana untuk usaha pembibitan tanamanbuah-buahan berasal dari dana sendiri dan kredit dari bank. Danainvestasi seluruhnya berasal dari dana sendiri, sedangkan dana modalkerja berasal dari kredit bank dan dana sendiri dengan perbandingan 35%kredit bank dan 65% dana sendiri.
  6. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usahapembibitan tanaman buah-buahan, dengan kemampuan mendatangkan hasilpenjualan yang tinggi para pengrajin mampu mengembalikan modal dalamwaktu 2,08 tahun, maka usaha pembibitan tanaman buah-buahan dinilaiLAYAK untuk dijalankan. Hal ini tercermin pula dari nilai IRRyang mencapai 41,93% dengan NPV Rp 34.769.916,- dan Net B/C Ratio 1,53.
  7. Analisis sensitivitas terhadap perubahanpendapatan menunjukkan bahwa proyek ini sensitif terhadap penurunansampai dengan 11% dengan asumsi biaya investasi dan operasional adalahtetap. Pada tingkat penurunan pendapatan tersebut proyek ini tidaklayak untuk dilaksanakan.
  8. Analisis sensitivitas terhadap perubahanbiaya variabel menunjukkan bahwa proyek ini sensitif terhadap kenaikanbiaya variabel sampai 24%, dengan asumsi biaya investasi, biaya tetapdan pendapatan adalah tetap. Pada tingkat kenaikan biaya variabeltersebut proyek ini tidak layak untuk dilaksanakan.
  9. Analisis sensitivitas terhadap perubahanpendapatan sekaligus kenaikan biaya variabel menunjukkan bahwa proyekini sensitif terhadap penurunan pendapatan dan kenaikan biaya variabelsampai dengan 8% dengan asumsi biaya tetap dan biaya investasi tetap.Pada tingkat penurunan pendapatan dan kenaikan biaya variabel sampai8%, proyek ini tidak layak untuk dilaksanakan.
  10. Hasil analisis keuangan tersebutmenunjukkan bahwa pembibitan tanaman buah-buahan merupakan proyek yangmenguntungkan, antara lain bagi penangkar, masayarakat dan pedagang.Disamping secara sosial memiliki manfaat, secara ekonomi usaha ini jugamemiliki masa depan yang cerah dan layak dibiayai perbankan.
  11. Usaha pembibitan tanaman buah-buahanmemberikan usaha tambahan yakni kebun buah bagi penangkar dan peluangkerja dan usaha bagi masyarakat setempat.
  12. Usaha pembibitan tidak menimbulkanpencemaran dan limbah berbahaya
SARAN
  1. Untuk menjaga kestabilan harga baik harga bibit dan harga sarana produksi serta harga jual bibit, penangkar harus mengoptimalkan fungsi asosiasi atau perkumpulan penangkar bibit, baik di tingkat daerah atau nasional.>
  2. Perlu diadakannya diversifikasi bibit mengingat beragamnya buah unggulan Indonesia.
  3. >Usaha pembibitan tanaman buah-buahan perlu menggunakan alternatif teknik budidaya yang baru dan lebih menguntungkan seperti kultur jaringan
  4. Pihak-pihak yang terkait usaha ini perlu untuk mengambil inisiatif agar bibit dari Indonesia dapat menembus pasar luar negeri.
  5. Meskipun usaha ini layak dibiayai oleh bank, namun bank perlu untuk melakukan analisis kredit yang lebih komprehensif berdasarkan prinsip kehati-hatian bank.

0 komentar:

Poskan Komentar

newer post older post Home